Demi Menggapai Ridha-Mu

Goresan Pena si Pengantar Pesanan

0 33

Sore itu saya kembali berkunjung ke pondok Daham. Baru memasuki kawasan pondok (belum sampai di halaman utama), saya lihat para santri yang sedang asyik dengan kegiatannya masing-masing, serentak menengok ke arah saya. Saat itu memang jam istirahat sore.

Kenapa mereka bisa kompak begitu? Karena suara motor saya cukup untuk memecah suasana pondok yang tenang dan asri tersebut.
Yang saya kendarai sebenarnya bukanlah motor racing, tapi lantaran saya kurang bisa merawatnya, jadilah seperti itu suaranya. Hehehe.

Setelah itu, “drama” pun dimulai…

Persis seperti ke-empat anak saya ketika menyambut saya setiap pulang kerja : berlari, bertanya, bercerita dan meminta sesuatu.
Itu pula yang saya alami bersama 50-an santri.

Terlalu panjang untuk diceritakan, bagaimana suasana dan perasaan saya selama bersama mereka.
Ruwet? Mungkin iya, tapi justru disitu letak chemistry nya!
Ketika suatu hari saya absen tidak bisa kesana, yang terbayang di pikiran saya justru wajah-wajah mereka yang pasti harap-harap cemas menunggu pesanannya.

Namun chemistry nya tidak hanya sampai disitu…

Dulu saya pernah sholat isya di sebuah Musholla, ternyata imamnya adalah wali santri KAF Jember.
Siapa sangka, di pondok Daham ini saya pun pernah diimami oleh putranya beliau… saat sholat isya juga!

Pernah juga di pondok Daham ini saya sholat isya diimami oleh santri lainnya. Persis besok paginya… saya duduk mendengarkan ilmu dari ayahnya, di majelis bernama KOTS.

Atau cerita ini…
Paginya saya bertransaksi dengan salah satu wali santri KAF Jember. Karena masih pagi & santai, saya berbincang sambil iseng foto bareng beliau. Hehehe.
Sorenya di hari itu juga saat saya datang ke pondok, entah mengapa… putranya berlari ke arah saya, memberi salam & membantu mengangkat barang-barang. Bahkan saat makan malam, dia yang menyiapkan makanan untuk saya.

Apakah ketiga cerita itu kebetulan? Entahlah, yang pasti itu qodarullah, dan saya bersyukur bisa merasakan momen tersebut.

Berbeda dengan ikhwan, chemistry nya para akhwat lebih ke romantisme. Bukan dengan saya…bukan! Hehehe
Tapi romantisme mereka dengan ayah bundanya.

Di hari-hari pertama Daham, sebagian akhwat masih ada yang jet lag :
diam, melamun, bahkan menangis.
Dengan saya pun mereka masih “dingin” dan kaku.

Salah satunya saat saya menyampaikan request dari orangtua mereka, untuk memotret mereka sebagai tanda bukti kalau pesanannya telah sampai, dan tentu saja seizin pengelola pondok.
Jawabannya : banyak yang menolak!
Kalaupun akhirnya para akhwat ini bersedia difoto, mereka menyertainya dengan “ancaman”…
“pak, nanti fotonya yang di galeri dihapusin ya!”
Masya Allah.

Barulah mereka mulai melunak & bisa bercanda dengan saya, saat handphone saya diizinkan menjadi media “pengantar surat” dari mereka untuk orangtuanya.
Mereka mulai bercerita banyak melalui goresan pena. Tentang doa mendoakan, tentang permintaan maaf, tentang jumlah hafalannya, tentang pengalaman lihat domba yang nyusu pake dot, dan yang pasti… tentang kudapan yang dipesan untuk “menambah semangat”!

Aah… apa memang begitu ya anak gadis? Agak lambat adaptasinya.
Apa mungkin karena mereka sudah diharuskan menjaga diri & kehormatannya, mereka pun merindukan rumahnya?
tempat dimana orang yang selama ini melindunginya berada…
dan tempat dimana mereka kelak “seharusnya” berada.
Saya kurang paham masalah ini, karena anak saya laki-laki semua. Hehehe

Mungkin hanya ini “goresan pena” dari saya, tentang pengalaman 6 kali bertemu mereka selama Daham.
Iya…hanya 6 kali!
Saya terbayang bagaimana dengan ustadz ustadzah disana yang full membersamai mereka selama satu bulan. Kisahnya pasti tidak panjang… melainkan panjang kali lebar kali tinggi. Hehehe.
Dan saya yakin, chemistry nya para santri pasti jauh lebih kuat bersama beliau beliau dibanding bersama saya.Jazakumullah Khair ayah bunda, saya bersyukur bisa berinteraksi dengan jenengan beserta ananda.
Mohon maaf bila saya tidak bisa memenuhi semua amanah jenengan. Semoga pemberian maaf yang tulus dari jenengan, Allah Ta’ala ganti dengan kebaikan.

Beberapa waktu lalu saya baca di grup Posku Jember, hadits ketiga yang wajib dihafal para santri adalah : “ittaqillaaha haitsumaa kunta” (mungkin di KAF lain juga sama ya?).
Semoga seluruh santri KAF dapat menghafal & mengamalkan hadits ini. Teriring doa untuk mereka, semoga tumbuh dewasa dalam ketaqwaan dimanapun mereka berada.

Dan satu doa lagi untuk seluruh keluarga besar KAF…
Sebagaimana judul buku yang ditulis oleh guru kita Ust. Wafi Marzuqi Ammar, hafizhohullah
“Semoga kita semua bisa berkumpul di Surga bersama keluarga”. Aamiin. Barakallahu fiikum.

Ketika jenengan sekeluarga kelak dianugerahi masuk surga, semoga ananda masih mengingat suara motor saya ketika di pondok Daham dulu… lalu berlari, bertanya, bercerita dan meminta sesuatu kepada jenengan :
“ayah, bunda… bapak pengantar pesananku, yang dulu pernah sholat bersamaku… ada dimana ya? Kok belum kelihatan? Kita cari yuk”

Robbanaa aatinaa fid dunyaa hasanah, wa fil aakhiroti hasanah, wa qinaa ‘adzaabannaar.
Ya Allah, berikanlah kami keluarga besar KAF kebaikan di dunia, berikan pula kebaikan di akhirat. Dan lindungilah kami semua dari siksa neraka. Aamiin.

Jember, Akhir Februari 2021.
Sekedar tim penggembira di Dauroh Hamasiyah Jawa Timur 2021.

Pak Buyung.
Pemilik Suzuki Spin putih.

Leave A Reply

Translate »