Demi Menggapai Ridha-Mu

cara agar istri mau dipoligami

0 7

Oleh: Abu Muhammad

Saya yakin, judul di atas adalah pertanyaan yang banyak bergayut di kepala para lelaki. Pertanyaan yang mungkin telah ditanyakan ke banyak tokoh dan ulama, dan banyak sekali variasi jawaban yang diberikan sesuai dengan kafasitas ilmu, pengalaman dan pemahaman masing-masing.

Saya ingin memberikan tips sederhana yang mudah-mudahan bisa menjawab pertanyaan di atas. Minimal bisa menjadi salah satu alternatif bagi para lelaki yang kepingin berpoligami namun sang istri (pertama) tak kunjung menyetujui atau malah menentangnya. Baik penentangan yang tersirat maupun yang tersurat alias tegas dan terang-terangan.

Tips ini sebenarnyajuga bagus dibaca oleh kaum muslimah yang secara keimanan dalam hati nuraninya menerima poligami, mendukung dan sangat ingin menjalaninya, namun masih merasa belum mampu untuk menjalaninya.

Tips ini insya Allah tidak semata-mata menguntungkan kaum lelaki atau merugikan kaum wanita (istri). Tips ini justeru saya sampaikan agar suami dan istri sama-sama bisa mengambil keuntungan baik keuntungan dunia maupun akhirat.

Saya akan menulis dengan gaya seolah-olah tengah berbicara kepada lelaki. Hal ini bukan karena tulisan ini hanya ditujukan kepada mereka dan bukan untuk kaum wanita.

Tidak…! Tulisan ini sesungguhnya saya tujukan buat orang-orang yang saya sebutkan di atas. Yakni muslim yang kepingin poligami namun masih terhalang penoakan istri dan muslimah yang hati nuraninya menerima poligami namun masih belum bisa mengendalikan perasaan (hawa nafsu) nya.

Tulisan ini seolah berbicara kepada para lelaki karena mereka adalah “PEMIMPIN” yang bertanggung jawab atas rumah tangganya, atas anak dan istrinya. Dimana jika dalam sebuah rumah tangga muslim, si istri masih menolak poligami maka tak layak jika dia menyalahkan sang istri. Lebih pantas jika dia melakukan introspeksi dan menyadari bahwa dirinya belum mampu memberikan didikan agama dengan baik kepada mereka.

Begitu yang saya maksud.Saudaraku yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala, penolakan tehadap apapun (bukan hanya poligami) tentu memiliki latar belakang. Secara kejiwaan sikap antipati atau penolakan pada diri seorang manusia sesungguhnya adalah cara pertahanan diri yang alami.

Seseorang menghindari hingga menolak sesuatu adalah dikarenakan dia merasa terancam atau minimal menganggap sesuatu itu sebagai ancaman.

Dalam konteks poligami, jelas wanita yang menolaknya karena merasa bahwa poligami tersebut akan merugikannya. Boleh jadi kerugian tersebut hanya kecil, bisa pula dikhawatirkan besar. Yang jelas, poligami dan apapun yang ada dalam hidup ini ditolak oleh manusia karena hal itu dianggap merugikan dirinya.

Berdasarkan prinsip dasar ini, maka cara untuk mengubah antipati menjadi simpati dan dukungan adalah dengan merubah persepsi manusia terhadap hal tersebut.

Dalam hal ini poligami. Saya tidak hanya bicara keimanan, tapi lebih kepada teknis dan mekanisme pikiran manusia. Istri menolak dipoligami jelas karena ia meyakini bahwa poligami akan menyebabkan ia kehilangan (atau minimal berkurang) cinta kasih, waktu hingga harta yang diperoleh dari sang suami.

Dalam benaknya telah tertanam keyakinan bahwa poligami akan mendatangkan penderitaan. Dan penderitaan ini tidak hanya berlangsung sehari atau dua hari, namun seumur hidup mereka.

Nah, jika para lelaki bertanya: “Bagaimana agar istri saya mau dipoligami?” Atau sebagian wanita muslimah bertanya: “Bagaimana supaya hati saya ridho jika suami melaksanakan syari’at ta’addud az-zaujaat (poligami)?”

Maka jawaban saya sederhana: “Berusahalah bagaimana caranya agar sang istri memiliki persepsi yang positif terhadap poligami itu sendiri. Hilangkan ketakutan dan ‘ancaman’ yang ada dalam pikiran mereka. Yakinkan bahwa poligami justeru akan mendatangkan banyak manfaat dan kebahagiaan.”

Jika anda sudah berhasil membentuk persepsi seperti ini baik di pikiran sadar, lebih-lebih pikiran bawah sadar para wanita, niscaya mereka akan bersedia dipoligami. Bahkan tak mustahil (dan ini banyak terjadi) para wanita itu sendirilah yang dengan suka rela (senang hati) menawarkan dirinya dipoligami.

Tidak masuk akal? Jika itu pendapat anda, maka diri (pikiran) andalah yang pertama-tama harus ‘diobati’. Bagaimana anda bisa meyakinkan istri anda bahwa poligami itu baik dan mendatangkan manfaat jika diri anda sendiri tidak meyakininya?

Saudaraku, teramat banyak jika ingin diceritakan, kaum wanita yang telah sampai pada pemahaman tentang betapa BAIK dan MULIA nya poligami. Sekali lagi, bahasan saya ini belum menyentuh wilayah agama. Ini masih wilayah psikologi (kejiwaan) manusia.

Maka jangan heran jika anda menemukan fakta bahwa di luar negeri seperti Amerika misalnya, pelaku dan pendukung poligami tak terbatas hanya kaum Muslimin. Banyak kalangan non Muslim yang memilih hidup berpoligami dengan tulus iklash karena keyakinan dan pemahaman mereka akan baiknya poligami.

Masih bingung? Semoga tidak…

Namun jika ada diantara saudaraku yang masih belum bisa memahami penjelasan saya di atas, saya ingin memberikan sedikit ilustrasi. Soal pencandu narkoba misalnya. Mari kita belajar dari kehidupan mereka.

Bukan belajar untuk menjadi pencandu, namun belajar analisa kejiwaan bagaimana seseorang bisa menjadi pencandu narkoba. Saya, anda dan mereka yang menjadi pengkonsumsi narkoba sendiri pasti sepakat bahwa narkoba itu selain barang HARAM juga merupakan sumber penyakit dan keburukan.

Namun mengapa mereka mau mengkonsumsinya? Padahal rasanya tidak enak dan resiko hukumnya juga tidak ringan? Atau coba perhatikan mengapa ada orang yang suka kebut-kebutan di jalan? Memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi dengan resiko kecelakaan yang bisa membuat pisik mereka sakit, cacat hingga nyawa melayang?

Mengapa ada orang yang mau-maunya melakukan olah raga-olah raga ekstrim seperti panjat tebing, terjun payung, berselancar di laut yang penuh hiu dan aneka aktifitas lain yang secara zahir kita sepakat bahwa itu berbahaya dan menyakitkan?

Jawabannya sama: Mereka memperoleh kenikmatan batin dari apa yang mereka lakukan itu. Bawah sadar mereka memperoleh kesenangan yang tiada tara atas keberhasilan maupun kegagalan mereka melakukan aktifitas menantang maut tersebut.

Dan yang penting lagi mereka memandang KECIL terhadap segala resikonya dibanding kesenangan dan kepuasan yang didapatkannya tadi.

Nah, disinilah kunci utamanya. Kepuasan, kesenangan dan menganggap tak berarti segala hal yang menyakitkan menurut ukuran orang lain adalah intinya.

Demikian pula jika anda ingin perempuan menerima poligami. Jangan berharap mereka akan mendukung anda berpoligami, jika belum berpoligami saja anda sudah membuat istri anda ketakutan.

Selayaknyalah anda melakukan ikhtiar untuk merubah persepsi istri anda terhadap sunnah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam ini.

Caranya bagaimana? Nah, ini tentu disesuaikan dengan karakter istri anda. Disesuaikan pula dengan faktor penyebab utama mengapa istri anda berpandangan buruk terhadap poligami?

Apakah karena alasan perasaan semata ataukah karena pemahaman agama yang kurang, atau trauma masa lalu yang berkenaan dengan poligami dan lain sebagainya.

Atau malah semua faktor itu ada pada istri anda? Maka, solusi (pemecahan masalah) hanya bisa kita dapatkan jika kita mulai dengan melakukan identifikasi masalah, menggali unsur-unsurnya, baru mencari pemecahan yang mengena terhadap permasalahan tersebut.

Saya tentu tidak mungkin menjelaskan secara panjang lebar tehnik detil mengingat sedemikian kompleksnya faktor penyebab penolakan poligami tersebut.

Namun saya berharap bahwa paling tidak sedikit pendapat saya di atas memberi gambaran buat anda tentang hal mendasar dari penolakan terhadap poligami.

Setiap rumah tangga, atau setiap istri tentu adalah unik. Problem mereka adalah bervariasi. Silahkan anda identifitasi masalah anda atau istri anda masing-masing, lalu cari solusi yang tepat dan akurat.

Namun jika anda bertanya permasalahan umum yang dialami oleh kebanyakan wanita (istri) maka saya katakan permasalahannya adalah karena kurangnya pemahaman mereka tentang kemuliaan poligami secara syari’at (agama).

Nah, untuk yang satu ini saya ingin sharing sedikit. Saya hanya ingin mengungkapkan bahwa buku kecil inipun adalah mengandung misi tersebut, yakni meluruskan pemahaman yang selama ini salah serta menjelaskan poligami dengan persepsi yang positif.

Sekiranya anda membaca dengan sungguh-sungguh disertai baik sangka terhadap syari’at Allah Subhanahu wa Ta’ala, insya Allah pemahaman anda terhadap poligami menjadi positif. Maka hal mendasar yang harus dilakukan oleh seorang suami terhadap istrinya yang menolak poligami, atau seorang wanita yang ingin meluruskan hatinya, adalah dengan menguatkan aqidah (keimanan) dan meningkatkan keyakinan akan kebenaran ajaran Islam secara kaffah.

Kita tak boleh hanya meyakini kebaikan syari’at itu sebagian saja dan menganggap buruk sebagian yang lain. Kita harus yakin dengan keyakinan yang bulat, utuh lagi mantap bahwa seluruh ajaran Islam itu baik termasuk Poligami yang telah diamalkan oleh Nabi dan Rasul terutama junjungan kita Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa salam.

Bahkan poligami ini juga diamalkan oleh para sahabat beliau, para ulama-ulama yang shalih serta kaum muslimin yang taat beragama. Kalaupun kita menemukan hal-hal buruk dalam praktek poligami, ketahuilah bahwa itu dikarenakan poligami tidak diamalkan secara utuh.

Yakinlah bahwa poligami yang buruk itu adalah yang tidak mengikuti aturan agama. Poligami yang menyengsaran itu adalah poligami yang dilarang oleh Islam. Maka kalau anda ingin agar istri anda mendukung poligami. Yakinkan ia bahwa jika anda menikah lagi anda sekeluarga akan memberoleh banyak manfaat dan lebih berbahagia dari sebelumnya.

Dengan argumen apa? Tentu sesuai dengan pemahaman dan kondisi istri anda. Namun sekali lagi saya tegaskan bahwa pemahaman agama adalah hal paling baik, paling benar dan paling permanen untuk semua itu.

Kalau sudah begini, insya Allah tidak ada yang perlu ditakutkan dari poligami, tidak ada yang perlu dikhawatirkan saat suami menikah lagi, dan tak perlu takut akan ditentang oleh istri saat anda merasa mampu dan telah waktunya untuk beristi lagi.

Anda sanggup? Insya Allah jika aturan Allah diikuti, Allah akan mempermudah jalan kita. Jika kau menolong (agama) Allah, niscaya DIA akan menolong dan meneguhkan kedudukanmu (QS. Muhammad:7)

‘Tips umum’ di atas hanyalah hasil analisa saya sendiri, semoga lebih banyak kebenarannya. Namun jikapun ada banyak yang salah, ya mohon dimaklumi karena hanya sebegitulah batas kemampuan saya.

Semoga Allah Subhanahu wa ta’ala senantiasa memberikan petunjuk dan bibingan-Nya… AamiinWallahu a’lam.

copas.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

− 4 = 4

Translate »