Demi Menggapai Ridha-Mu

Pedang sang khatib

0 8

“SAIFUL-KHATEB”

Siang tadi, saya dipanggil salah seorang guru untuk sebuah hajat selepas sholat jum’at. Saya dan salah seorang murid beliau memutuskan untuk sholat jum’at di masjid tempat beliau mengimami di distrik Shuran dari kota Madinah.

Sembari mengerjakan tugas beliau membuka siaran langsung sholat jumat pertama di Ayasofia setelah 89 tahun tidak dikumandangkan azan, dan 86 tahun menjadi museum.

Meski waktu Istanbul dan Madinah adalah sama, tapi jum’at di Istanbul lebih mundur satu jam. Jadi kami bisa nonton siaran langsungnya.

Tepat ketika kami melihat layar, yang tampak adalah Presiden Erdogan membaca Al-Quran, lalu kerumunan orang-orang di luar masjid yang tidak mendapat akses masuk.

Komentar beliau pertama kali: “Orang kafir dan orang munafiq akan marah melihat ini.”

Beliau lanjut lagi, “Orang-orang beriman senang bila rumah ibadah digunakan untuk menyembah Allah”

Berarti kalau ga ikut senang Allah disembah, perlu cek lagi iman itu. Jangan-jangan ada benih nifaq di hati kita.

Kata beliau lagi, “Ga boleh kamu ta’assub (fanatik) dengan orang, suku bangsa, madzhab, kamu bolehnya ta’assub dengan agama Allah”.

Sikap wasathi beliau ini, di lain kesempatan beliau cerita. Sewaktu mengisi majlis sama’ di Mesir dan membacakan sanad beliau, salah satu gurunya adalah seorang shufi.

Usai majlis, seorang murid menghampiri beliau dan bertanya, “Mengapa anda meriwayatkan dari seorang shufi?”

Jawabnya, “Karena ia muslim.”

Kemudian murid itu menyalami beliau sambil berkata, “Saya bertanya karena saya shufi, seandainya semua salafi seperti anda.”

Kami tersenyum mendengar kisah beliau.

Kembali ke Ayasofia. Kali ini tayangan khatib yang naik ke mimbar dengan pedang di tangannya. Kami baru sadar setelah beliau beri tahu.

Kata beliau, Rasulullah khutbah dengan tongkat. Sedang sahabat pada zaman penaklukan menggunakan pedang. Fuqoha menyimpulkan bila wilayah yang masuk islam dengan penaklukan militer, khatibnya menggunakan pedang. Sedangkan yang masuk islam tanpa perang, khatibnya menggunakan tongkat. Seperti di Madinah yang masuk Islam tanpa perang. Itu sebab di Malaysia dan Indonesia, khatibnya menggunakan tongkat. Sebab masuk Islam tanpa perang.

Satu fakta yang beliau ceritakan, tongkat yang digunakan Imam di Madinah, ternyata di dalamnya ada pedangnya.

Khatib di Ayasofia membawa pedang. Sebagai simbol bahwa Konstantinopel menjadi wilayah Islam setelah penaklukan. Azan kembali dikumandangkan di Ayasofia. Membuat benci kaum yang tidak beriman dan yang pura-pura beriman dan menegur kembali yang merasa sudah sempurna dalam beriman.

Ternyata kalau kita terlalu sombong, belum tentu lewat tangan kita Allah muliakan agama ini.

Allah memilih hamba-hambaNya yang mau berjuang.

Kalau kamu tidak berupaya mengambil peran sekecil apapun, maka tidak punya amal apa-apa.

Madinah, 24 Juli 2020
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1221692821498197&id=100009724725244

Leave A Reply

Your email address will not be published.

− 4 = 1

Translate »