Demi Menggapai Ridha-Mu

Bayi lelaki yang disusui oleh ibu

0 26

FAIDAH HARI INI, KAMIS, 10 RAMADHAN 1442H/22 APRIL 2021M

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
afwan ustad mau bertanya: ‎
Misalkan, Ibu saya menyusui anak laki-laki tetangga saya ustadz, Apa kakak, ayah, serta ‎paman saudara sepersusuan saya ini jg menjadi mahrom untuk saya Ustadz?‎

jawaban:‎
عليكم السلام ورحمة الله وبركاته
Baarakallaahu fiiki ukhti atas pertanyaannya. Bismillaah wash shalaatu wassalaamu ‘alaa ‎Rasulillah, amma ba’du:‎

Pertama: Radha’ yang dimaksudkan adalah: Jika bayi di bawah 2 tahun menghisap ASI ‎sampai kenyang. Jika bayi menghisap ASI seorang ibu sampai kenyang dan melepas ‎mulutnya dari puting, maka ini dihitung satu kali radha’. Juga jika bayi menghisap ASI ‎kemudian melepas dan kembali menghisap lagi sampai kenyang, ini juga disebut satu kali ‎radha’an. Jika ini terjadi sampai 5 kali maka inilah radha’ yang mengharamkan.‎
‎ ‎
Kedua: Untuk radha’ yang mengharamkan adalah 5 kali radha’an yang jelas. Jika ‎hanya sekali atau dua kali hisapan, yang tidak sampai 5 kali maka tidak mengharamkan. ‎demikian halnya jika tidak jelas. Semisal si wanita yang menyusui tidak ingat berapa kali ‎ia menyusui si bayi. Dari Ummu Fadhl dia berkata:‎
كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي بَيْتِي، فَجَاءَ أَعْرَابِيٌّ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، كَانَتْ لِي امْرَأَةٌ، فَتَزَوَّجْتُ عَلَيْهَا امْرَأَةً ‏أُخْرَى، فَزَعَمَتْ امْرَأَتِي الْأُولَى أَنَّهَا أَرْضَعَتْ امْرَأَتِي الْحُدْثَى إِمْلَاجَةً، أَوْ إِمْلَاجَتَيْنِ، وَقَالَ مَرَّةً: رَضْعَةً، أَوْ رَضْعَتَيْنِ، ‏فَقَالَ: ” لَا تُحَرِّمُ الْإِمْلَاجَةُ، وَلَا الْإِمْلَاجَتَانِ ” أَوْ قَالَ: ” الرَّضْعَةُ أَوِ الرَّضْعَتَانِ ” ‏
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam ada di rumahku. kemudian datang seorang Arab ‎baduwi dan bertanya: “Wahai Rasulullah! Saya mempunyai seorang istri. Kemudian ‎menikah lagi dengan istri kedua. Istri saya yang pertama mengaku pernah menyusui istri ‎kedua saya sebanyak satu atau dua kali hisapan. -dalam riwayat lain: Satu atau dua kali ‎radha’an-. Maka Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Satu atau dua kali ‎hisapan” -dalam riwayat lain: “Satu atau dua kali radha’an”- tidaklah mengharamkan.” ‎‎(Musnad Ahmad, no. 26873 dengan sanad sahih)‎
Dalam riwayat lain, Aisyah radhiyallahu anha berkata:‎
كَانَ فِيمَا أُنْزِلَ مِنَ الْقُرْآنِ عَشْرُ رَضَعَاتٍ مَعْلُومَاتٍ يُحَرِّمْنَ. ثُمَّ نُسِخْنَ بِخَمْسٍ مَعْلُومَاتٍ فَتُوُفِّىَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه ‏وسلم- وَهُنَّ فِيمَا يُقْرَأُ مِنَ الْقُرْآنِ.‏
‎“Dahulu yang diturunkan dalam Al-Quran adalah 10 kali radha’an yang jelas yang ‎mengharamkan. Kemudian dihapus menjadi 5 kali radha’an yang jelas. Maka Rasulullah ‎Shallallahu Alaihi Wasallam wafat dan itulah yang dibaca dalam Al-Quran.” (Sahih ‎Muslim, no. 3670)‎
Ini menunjukkan bahwa yang mengharamkan adalah 5 kali radha’an ke atas. Adapun ‎yang di bawah itu atau wanita tukang susunya lupa maka tidak mengharamkan.‎
Ketiga: Yang mengharamkan adalah jika bayi yang disusui di bawah usia dua tahun. ‎Jika bayi sudah baligh atau ASI sudah bukan lagi makanannya maka tidak ‎mengharamkan. Adapun yang terjadi Salim maula Abi Hudzaifah maka ini pengkhususan ‎bagi Salim. Wallahu a’lam.‎
Dari Ummu Salamah Radhiyallahu anha berkata: Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam ‎bersabda:‎
‏((لاَ يُحَرِّمُ مِنَ الرِّضَاعَةِ إِلاَّ مَا فَتَقَ الأَمْعَاءَ فِي الثَّدْيِ ، وَكَانَ قَبْلَ الفِطَامِ)).‏
‎“Radha’ tidaklah mengharamkan kecuali saat usus bayi membutuhkan makanan dari ASI ‎dan terjadi sebelum disapih.” (Sunan At-Tirmidzi, no. 1152 dan disahihkan Al-Albani)‎
At-Tirmidzi rahimahullah berkata: ‎
هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ. وَالعَمَلُ عَلَى هَذَا عِنْدَ أَكْثَرِ أَهْلِ العِلْمِ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَغَيْرِهِمْ : أَنَّ ‏الرَّضَاعَةَ لاَ تُحَرِّمُ إِلاَّ مَا كَانَ دُونَ الحَوْلَيْنِ ، وَمَا كَانَ بَعْدَ الحَوْلَيْنِ الكَامِلَيْنِ فَإِنَّهُ لاَ يُحَرِّمُ شَيْئًا.‏
‎“Ini adalah Hadis hasan sahih. Dan inilah yang diamalkan oleh kebanyakan ahli ilmu dari ‎sahabat Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam dan lainnya. Yaitu: Radha’ tidak ‎mengharamkan jika di bawah dua tahun. Adapun jika disusui di atas dua tahun maka ‎tidak mengharamkan sedikit pun.” Sampai di disini perkataan At-Tirmdizi.‎
Maksud mengharamkan adalah menjadikannya mahram, sehingga tidak boleh dinikahi. ‎Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu berkata:‎
‏((لاَ رِضَاعَ إِلاَّ مَا شَدَّ الْعَظْمَ وَأَنْبَتَ اللَّحْمَ))‏
‎“Tiada radha’ kecuali yang membentuk tulang dan menumbuhkan daging.” (Sunan Abi ‎Dawud, no. 2061 dengan sanad sahih)‎
Syaikh Ibnu Baz rahimahullah berkata:‎
إذا كان الرضاع أقل من خمس رضعات، أو إذا كان بعد أن تجاوز الطفل الحولين فهذا لا أصل له ولا يعتبر محرما
‎“JIka radha’nya kurang dari lima radha’an atau umur sang anak di atas dua tahun maka ‎sama sekali tidak mengharamkan.” (Majmu’ fatawa, 22/239)‎
Keempat: Radha’ itu mengharamkan seperti Nasab. Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam ‎bersabda:‎
‏((إِنَّ الرَّضَاعَةَ تُحَرِّمُ مَا يَحْرُمُ مِنْ الْوِلَادَةِ))‏
‎“Sesungguhnya Radha’ mengharamkan sama seperti kelahiran mengharamkan.” (Sahih ‎Al-Bukhari, no. 2646)‎
Maksudnya: Radha’ itu mengharamkan sebagaimana haramnya saudara yang dilahirkan ‎oleh ibu kandung. ‎
Berdasarkan poin keempat ini, maka yang hanya mahram bagi ukhti adalah saudara lelaki ‎tersebut. karena hanya dia yang disusui ibu ukhti. selain lelaki tersebut, semuanya bukan ‎mahram. baik ayah, kakak, adik, atau pamannya.‎
sebaliknya, semua keluarga ukhti, mulai ibu, ayah, saudara lelaki dan perempuan, ‎semuanya adalah mahram bagi lelaki tersebut. termasuk ukhti sendiri. Sehingga jika ukhti ‎mencintai lelaki tersebut dan hendak melakukan akad nikah, maka hukumnya haram. ‎Karena statusnya adalah seperti saudara kandung. Jika sudah terlanjur menikah maka ‎harus diputus akad nikahnya meski sudah punya anak. Wallahu a’lam.‎
‎(wmafaj)‎

Leave A Reply

Translate »